Entri Populer

Sabtu, 15 Oktober 2016

MISTERI JUBAH BIRU (certia bersambung )



Malam ini Daisy kembali sendirian di rumahnya. Ayahnya masih berada di Jakarta. Sudah sepekan sang ayah di sana. Ibundanya pun tidak berada di rumah. Tante Indri ibundanya Daisy sedang mengikuti diklat. Dua hari lagi sang ibu baru pulang.
Hari sudah mulai malam, Perlahan surya beranjak ke peraduan. Suara desau dedaunan yang tertiup angin, ditimpali jangkrik yang saling menyahut.

"bunda, bunda kapan pulang? Daisy takut nih" rengek Daisy di ujung telpon.

" nanti bunda hubungi Rini, anak bibi mu di Rumbai untuk menemani mu dua malam ini ya?" jawab Ibunya.

"Iya bunda. Tapi cepat ya? di sini hujan lebat dan bercampur petir bunda". ujar Daisy.

"ya anak bunda yang cantik. Sudah SMA kok masih penakut". Timpal sang bunda.
Daisy pun mengakhiri pembicaraan by phone bersama sang bunda.

Jam dinding antik di ruang tengah berdentang sepuluh kali. Suara hujan semakin gaduh saja di luar sana. Daisy mulai  gelisah. Sudah jam segini kok Anak bibinya yang di Rumbai belum datang juga. Dengan gontai Daisy menuju kamarnya. Sambil berbaring,Daisy membuka bbm nya. Serr.... ada pesan baru dari Rini yang membuat Daisy memberengut. Rini tak bisa ke Kota, karena adiknya yang bungsu tidak ada yang menjaga. Ayah dan ibunya belum pulang dari kampus Universitas Riau.

"hmmmm.....!  eh.... gimana nihhhh??? please dech..." rungut Daisy.

Tiba-tiba, blaapppp..... lampu di rumahnya padam bersamaan dengan tumbang nya pohon asam di sudut gudang.

Petir menyahut dengan galak pula.

Daisy mulai ketakutan. Hujan turun bagai tercurah dari langit. Tak lama lampu menyala kembali. Tapi lampu kamar Daisy tak menyala. 

srekk...srekkk....srekkk... suara aneh terdengar dari sudut jendela kamarnya. Sekelebat bayangan hitam tertangkap mata Daisy. Dengan ketakutan yang memuncak, Daisy beringsut ke jendela kamar. Perlahan disibakkannya tirai di jendela itu.
Samar-samar terlihat sosok tinggi besar berjubah biru membelakangi posisi Daisy berdiri.


........(bersambung)

MENANTI..

Jendela--jendela reot ini
selalu terbuka
bahkan ketika gerimis menari seperti pagi ini

seperti senja itu
engkau menyingkap tirai itu
menanti senyum
meski senandung itu sendu

tiadalah waktu menjemput mimpi mu
terus berlalu dan berlalu
dan riang mu tak hilang ditelan waktu

sabar adalah baju mu
yang senantiasa menghiasi tiap langkah
adalah pelangi menhadirkan keindahan
tapi perlu hujan yang membawa badai dan petir

dia akan tetap datang seperti sumpahnya dihadapan mu
menantilah
hingga langit sudah biru

memori tentang mu

Seperti kicau burung pagi hari

merdu itu mengingatkan ku pada senda gurau mu

setiap mentari tersembul di balik coretan mega di cakrawala

Seperti desiran dedauan dibelai angin

menciptakan irama simfoni semesta

membangkitkan memori tentang mu

yang kini

entah di mana


foto buram ini tak lagi mampu membangkitkan mimpi

terbiar atau terbawa

hilang atau kentara

dalam satu senja


entahlah...



MISTERI RIMBA LARANGAN (cerita bersambung )

BAGIAN I....

Bus cepat itu baru saja berhenti di Terminal Bandaraya Payung Sekaki Pekanbaru. Azin dan kawan-kawan bergegas turun dari bus. Ada 8 orang rombongan mereka. Di samping Azin,ada Marlo, Afif, Sofyan, Izur, Ayi, Riska, dan Nuha.Mereka adalah rombongan mahasiswa jrusan Antropologi pada salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Adapun tujuan mereka datang ke Riau adalah mengadakan penelitian kehidupan sosial budaya masyarakat yang ada di Provinsi Riau. Adapun tujuan mereka adalah Kabupaten Pelalawan. 

'' Guys, ini pertama kalinya gue menginjakkan kaki di bumi Lancang Kuning ini". Ujar Marlo,

" hmmm.... kita-kita kan baru kali ini juga ke Riau,bahkan Sumatera. Bukankah begitu teman-teman ? ". Timpal Nuha. 

" Iya nih. Kita-kita juga baru kali ini". Sahut yang lainnya serentak.

" Ngomong-ngomong mengapa elo tertarik banget sih mengadakan penelitian di Riau, Izur?". Tanya Riska.

" Begini, menurut artikel yang gue baca di slah satu situs berita online di Pekanbaru Riau, ada misteri yang sampai saat ini sangat melegenda. Yaitu misteri orang bunyian. Menurut cerita turun temurun, di rimba belantara Riau, ada kerajaan gaib yang bernama kerajaan orang bunyian.

"ssst... kita-kita ini mau tidur di terminnal ini ya? ". Timpal Azin.

"ups, iya nih. Sampai lupa nih. Ya udah, kita ambil penginapan murah saja ya? Gimana? Agree? he he". Timpal Marlo sambil sesekali mengutak atik androidnya.

Terlihat Ayi sedang menelepon seseorang. Tak lama Ayi berkata: " Friends, Ayi udah nelpon teman Ayi di kota bertuah ini. Dia bilang, ada penginapan cukup murah tapi nyaman. Hotel ini baru dilounching men. Jadi ada promo kamar setengah harga normalnya Rp 200.000,0/nett per malam. Berarrti cukup bayar Rp 100.000,00 saja per kamar.".

" Siip lah itu. Ayo kita ke sana. Taksi, antar kita ke penginapan ini ya? Ujar Marlo sambil memperlihatkan nama dan alamat hotel tersebut di Androidnya pada supir taksi yang sedang menunggu penumpang di terminal tersebut.

Akhirnya mereka menaiki 2 taksi menuju ke hotel baru yang disebutkan temannya tersebut.

Mereka pun sampai di hotel yang dimaksud teman Ayi. Cukup bersih,bagus, dan indah dilihat dari depan dan samping. Satu per satu tas  bawaan mereka diturunkan dari bagasi. Mereka pun check in  di resepsionis. Karena kelelahan, mereka pun bergegas memasuki kamar masing-masing. Satu kamar diisi oleh 2 orang. Sesuai arahan ketua mereka Azin, Esok senin siang, dosen pembimbing mereka yang memimpin  penelitian ini yakni Bapak Dr. Arlan Hafsi, M.Si akan menyusul ke Pekanbaru. Beliaulah yang mempunyai proyek penelitian ini.
Akhirnya, mereka terlelap dibuai  mimpi. Apa lagi penyejuk udaranya yang cukup dingin makin membuat mereka lelap.....Bersambung.


Jumat, 14 Oktober 2016

GORESAN JIWA

Sajak kepada langit...

Barangkali hanya awan yang mau
Mendengar dan menyapa rintihku
Seorang pembantu
Yang meninggalkan negeriku
Terbang mengawang dalam bisu
Buat para ayah
Teruntuk para ibu
Terutama ibu pertiwi
Beri kami pilih
Pasti kami di sana di ibu pertiwi
Dengan segala bakti kami
Dekat dengan jiwa-jiwa terkasih

Beri arti jutaan kami
Yang terkadang lirih tanpa bunyi
Kami sumbang darah dan keringat kami
Pada ibu
Terutama ibu pertiwi

Beri kami lencana
Yang sering kau sematkan wahai para Ibu
Terutama ibu pertiwi
Kami telah beri arti sumbangsih negeri
Walau jauh dari sanak famili
Sematkan dia di pundak para petinggi
Kami di sini bukan bersuka hati
Tapi terdampar
Ketika laut tak lagi berbuih
Kami bukan lupa pada ibu
Terutama ibu pertiwi

Kami hanya mengejar sesuap nasi
Dan sekeping roti
Menyambung hari
Ketika Ibu pertiwi lalai menjaga kami.....
2016. By. Rahmat. publisher : www.buahpena.com,www.simpulsastra.blogspot.com.

SRIKANDI

       

 Hongkong International Airport,Sabtu, 04  Januari 2014. Pukul 15.30 waktu setempat.

Rohayati keluar dari pintu pesawat dan dengan perlahan menuruni tangga.
“ Welcome to Hongkong, and Goodbye Cianjur”. Ucap Rohayati lirih sambil menyeka buliran air mata yang jatuh membasahi sepasang bola matanya yang bening.
        Setelah sampai di ruang tunggu, di sana telah berdiri sahabatnya yang telah bekerja selama 4 tahun di Hongkong. Afriani nama gadis itu. Usianya terpaut 4 tahun dari Rohayati.
“ Mari Rohayati ku bantu bawakan tasnya. Majikan kita  tidak bisa menjemputmu ke Bandara karena dia sudah dua hari berada di Beijing. Katanya ada rapat dengan dewan direksi di sana. Tiga hari lagi baru pulang” . Ujar Afriani panjang lebar.
“ Ya, ayolah. Akupun mau cepat sampai ke rumah majikan. Aku lelah,mau istirahat Ani”. Sahut Rohayati.
        Mereka berdua bergegas mencari taksi. Setelah dapat taksi,mereka segera meluncur ke rumah majikan mereka.
        “ Yati, aku heran. Dulu ku ajak ikut jadi TKI di Hongkong, kamu tak mau. Alasannya kamu ingin merawat adikmu dan ibumu. Sekarang baru mau ikut. Apa atas kehendak sendiri atau.....” Yati memotong pembicaraan: Ani, aku ini ikut jadi TKI untuk menghindari perjodohan oleh ayah dan ibuku. Ani pasti masih ingat dengan akang Suparna, pemilik peternakan sapi dan kambing di pinggiran kota Cianjur? Tanya Yati pada Ani
“ Oooh... juragan Suparna? Yang istrinya ada 2 itu? Yang mempunyai anak perempuan bernama Entin itu? Kan anaknya teman sebaya Yati” Sahut Afriani.
        “Iya. Sekarang istrinya malah sudah 3. Dia hendak menjadikanku sebagai istri ke empatnya. Ayah dan Ibuku telah mengambil panjar dari uang pesta pernikahanku sebesar 20 juta. Uang itu untuk membayar hutang ayah akibat kalah judi. Asal Ani ketahui, aku telah berhutang pada salah satu PJTKI untuk menutup hutang ayah pada akang Suparna”. Rohayati mulai terisak lagi.
        “Sudahlah Yati. Ini sudah menjadi jalan takdir kita berdua. Akupun dulu juga melarikan diri karena tak mau dijodohkan dengan Juragan Asep. Itu tuh si pemilik toko kelontong dan usaha ayam potong.” Timbal Afriani.
        “Okelah Yati. Kamu istrirahat saja dulu di kamar. Tenangkan diri dulu. Dalam 2 hari ini,belum ada kerjaan yang berat,karena kedua majikan kita tidak berada di tempat. Ke 3 anaknya telah bersuami semua. Bahkan anak ke 3 nya menikah dengan Warga Negara Indonesia. Mereka menetap di Jakarta”.
“ Terima kasih ya Ani. Aku istirahat dulu”, Ucap Rohayati.
“ Ya. Aku memasak dulu sekalian bersih-bersih teras”. Sambut Ani sayup-sayup dari dapur,

Hongkong, 22.30 waktu setempat

Rohayati belum juga bisa memejamkan matanya barang sejenak.Sahabatnya Afriani sudah tertidur pulas sekali. Bahkan sesekali tampak menggeliat sambil bersuara. Mimpi mungkin.

Pokoknya kamu harus nurut abah dan emak. Anak perempuan itu kalau sudah besar ya menikah. Apa sih kurangnya juragan Parna? Kaya, dermawan, ramah.
Yati tidak mau abah. Yati mau kuliah.
Dasar anak durhaka kamu...Plakkk... sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Rohayati. Perlahan Yati mulai sesgukan di kamar itu. Peristiwa 3 bukan lalu itu masih terbawa hingga ke tempat kerjanya di rumah majikan Rohayati.
Sebenarnya bukan itu saja yang membuat Rohayati memutuskan jadi TKI. Seseorang yang sangat dicintainya yakni Kang Dayat, memilih menikah dengan teman SMA nya, anak pemilik toko kue oleh-oleh khas Cianjur. Di samping itu semua, Yati bertekad mencari nafkah di negara orang karena upah lebih menjanjikan. Bila dibandingkan gaji yang didapat sebagai karyawan pabrik garmen atau pabrik lainnya di Indonesia. Itu pun sulit mendapatkan lowongan kerja. Sudah dapat,malah dijadikan tenaga outsourching lagi.
        1 Tahun berlalu.......
        Rohayati sedang sendirian di kamarnya. Saat itu memang sudah masuk jadwal istirahat malam. Perlahan Yati membuka laptop milik sahabatnya Afriani. Yati berniat mengirim kabar kepada sahabat dekatnya di Jakarta, Indah namanya. Indah bernasib baik. Dia bisa melanjutkan kuliah di sana. Tapi Yati sudah tidak berkomunikasi sejak Yati berangkat menjadi TKI.
        Cuma Yati masih menyimpan alamat surat elektronik(e-mail) Sahabatnya Indah.
Dari rantau dalam hening,
        Sahabatku Indah, di Jakarta.
Hai ndah, apa kabarmu? Bagaimana kuliahmu setahun ini? O ya, Indah kuliah jurusan apa? Pasti menyenangkan bukan? Indah, terima kasih atas bantuanmu mengurus paspor dan visa kerja ku,sehingga aku bisa berangkat ke Hongkong. Bahkan Indah sampai mengumpulkan teman sekelas kita di IPS 4 dulu.
Persahabatan sejati terkadang mengasyikkan ya Ndah?
O ya, kabarku di sini baik-baik saja. Majikanku ternyata sangat perhatian dan penyayang. Bahkan kami sering diajak jalan-jalan pada hari minggu di sekeliling Victoria Park.
        Sahabatku Indah, di sini aku diperlakukan sangat manusiawi. Ada jadwal istirahat layaknya pekerja kantoran. Gaji yang aku dan sahabatku Afriani terima juga cukup besar. Setidaknya jauh lebih besar dari gaji rekan seprofesi kami di tanah air.
        Indah, seenak-enaknya di negeri orang,pasti lebih enak tanah air kita sendiri.
        Di sini kota super sibuk. Pusat bisnis dunia. Rasa kekeluargaan sangat kurang. Keluarga ya yang tinggal satu rumah.
Tapi di sini aman Indah. Iklim investasi menjanjikan. Bangunan-bangunan pencakar langit tumbuh tiap 3 bulan sekali.
        Indah, semoga Indonesia cepat bangkit ya? Jangan lupa indah kabari Keadaan adik dan ibuku di kampung ya?
        Di sini, Rohayati tetaplah berhati Merah putih dan berjiwa NKRI.
        Salam kanget dan salam hangat..
                Sahabatmu....... Rohayati.
Rohayati pun mengirimkan surat elektroniknya ke alamat surel Indah sahabatnya.
        Malam makin larut. Rohayati mencoba menulis puisi di buku hariannya. Kelak akan dikirim pada salah satu majalah wanita mingguan di Indonesia.


Sajak kepada langit...

Barangkali hanya awan yang mau
Mendengar dan menyapa rintihku
Seorang pembantu
Yang meninggalkan negeriku
Terbang mengawang dalam bisu
Buat para ayah
Teruntuk para ibu
Terutama ibu pertiwi
Beri kami pilih
Pasti kami di sana di ibu pertiwi
Dengan segala bakti kami
Dekat dengan jiwa-jiwa terkasih

Beri arti jutaan kami
Yang terkadang lirih tanpa bunyi
Kami sumbang darah dan keringat kami
Pada ibu
Terutama ibu pertiwi

Beri kami lencana
Yang sering kau sematkan wahai para Ibu
Terutama ibu pertiwi
Kami telah beri arti sumbangsih negeri
Walau jauh dari sanak famili
Sematkan dia di pundak para petinggi
Kami di sini bukan bersuka hati
Tapi terdampar
Ketika laut tak lagi berbuih
Kami bukan lupa pada ibu
Terutama ibu pertiwi

Kami hanya mengejar sesuap nasi
Dan sekeping roti
Menyambung hari
Ketika Ibu pertiwi lalai menjaga kami.....

Hongkong, 12 Februari 2015.
Rohayati.......

12 februari 2015: written by Rahmat: PubLisher by:www.buahpena.com.

Senin, 10 Oktober 2016

PENGAGUM RAHASIA


Jam dinding kuno berbahan jati yang berdiri di sudut ruangan tengah dekat kamar tidur utama berdentang 11 kali. Barbara belum juga dapat melenakan jiwanya agar terlelap dalam ambang tidur. Tadi siang rekannya Chatty memberitahukan bahwa ada seorang pria yang rutin membuka Blog Pribadi barbara,bahkan itu dilakukannya sampai 12 kali dalam sehari semalam. Oh My God! Barbara kaget bukan main. Dan, ini masih menurut Chatty lagi, itu sudah berjalan sejak blog Barbara diluncurkan. Blog dengan domain.com dan berbahasa Inggris tersebut dibuat sejak tahun 2010. Bayangkan.
Memang sih, traffic pengunjung Blog nya Barbara tersebut sudah dikunjungi 55.000 visitor dan rata-rata tak kurang dari 17.000 visitor per harinya, serta telah mencapai 55 negara yang mengunjungi blog tersebut.
Menurut Barbara itu suatu pencapaian yang luar biasa. Blog itu berisikan tentang kiat-kiat menghadapi pergaulan antar lawan jenis, seputar asmara, trend pakaian,kosmetik,perhiasan,dan lainnya.
Hmm... siapa ya pria itu? Kok Chatty tak mau menyebutkan siapa dia? Kok pakai rahasia segala? 
Barbara makin hilang rasa kantuknya. Siapa ya si Dia? Apakah Jack si pemain baseball yang nyentrik, atau...yach Franklin yang klimis itu?...Tapi sepertinya tidak. Dia saja tak begitu suka dunia blogger. Hmmm... tapi Alex kan jago tuh dunia internet. Bahkan dia sudah mapan dan kaya raya dari dunia nge Blog ini. Ah... sepertinya sosok pengagum rahasia itu Alex. Kalau iya, boleh juga sih.. mapan, gagah seperti Christiano Ronaldo, sang pemain pujaan Barbara. Hmm... siapa sih?..aduuhhh ni mata malah semakin jauh dari dari kata tidur.
Sudah jam 3 dini hari, Barbara belum juga tidur. Perasaan yang gundah membuatnya tak mengantuk. Baru pukul 4.30,Barbara terlelap.
Barbara baru bangun pukul 9 pagi. Karena masih agak kantuk, Barbara tidak membuat sarapan sendiri. Dia menelpon Restoran Pizza di ujung jalan dekat rumahnya. tak lama pengantar pizza pun datang. Dengan ditemani segelas susu, Barbara mulai sarapan. Karena sudah lapar juga, makanan itu pun tak bersisa..Ludes!
Sambil sarapan, tak lupa Gadis tersebut membuka Blog nya. Satu per satu dipelototinya komentar-komentar yang masuk melalui laman khusus sambung rasa di sudut kiri blog.
serrr.... ada satu komentar yang membuatnya berdebar. 
" Pagi Barbara!, sudah sarapan? sudah mandi? hmm... Saya Bryan. Saya adalah pengagum tulisan-tulisan di blog ini. Itu sudah lama. Kamu tentu tak mengenal saya. Karena, saya baru satu bulan tinggal di New York. Saya melanjutkan kuliah di sini, mengambil master ekonomi. Saya tinggal di Los Angeles, tapi... saya adalah pembaca setia blog anda. He he.. senang bisa menyebutkan jati diri.
Saya mengajak Barbara copy darat ya? Saya tunggu lusa,hari minggu, di restoran pizza langganan Barbara"
"waw...kok..bagaimana ini... waduh. Kesempatan langka, aku harus menjumpainya. Bukan apa-apa. Penasaran saja. Semoga dengan perjumpaan ini membuat rasa penasaran ku hilang". Barbara menggumam.
Rasanya menunggu hari minggu itu sangat lama. Seperti sebulan. Padahal cuma dua hari.
" Hallo Chatty.... kamu di mana ni? Ada kejutan besar" Ujar Barbara.
"Ya.. saya di rumah. Lagi bersih-bersih sambil menemani si bungsu Clara. Mama ke luar negeri bersama Papa. Ada apa? " jawab Chatty.
" Itu, si pengagum rahasia tersebut mau copy darat. Dia mau jumpa saya pada hari minggu. Namanya Bryan". Bagaimana,mau ikut tak?
husst.. tak boleh... nanti malah mengganggu" Timpal Chatty.
" Ya.. apa boleh buat. Nanti kebagian cerita sajalah ya?'' ujar Barbara.
Minggu, 1 Februari 2015, pukul 08.30 waktu New York. Di pojok kiri restoran telah duduk sepasang anak manusia. Siapa lagi kalau bukan Barbara dan Bryan. Mereka tidak kelihatan canggung sama sekali. Seperti sudah kenalan bertahun-tahun. Barangkali karena bawaan Bryan yang supel,ramah, dan tentunya suka humor pula.
Seminggu setelah pertemuan tersebut, Barbara dan Bryan sudah jadian. Barangkali karena kecocokan satu sama lain. Atau... Ini nih yang membuat Bryan nembak langsung Barbara. Ternyata oh ternyata Bryan adalah sahabat masa kecil Barbara. Bryan ikut orangtuanya pindah ke Los Angeles 16 tahun yang lalu. Pantas saja mereka begitu cepat akrab. Ditambah lagi papa Bryan adalah sahabat baik papanya Barbara.
Hati Barbara penuh bunga-bunga bahagia. hari-harinya makin menyenangkan. Bukan itu saja, pengunjung blognya menembus angka 100.000 dengan jumlah visitor harian rata-rata 30.000. Barbara makin bahagia manakala dia menerima cek dari perusahaan afiliasi ternama dengan nilai fantastis, yakni 1 juta dollar. Kebahagiaan itu semakin bertambah ketika 3 bulan setelah pertemuan tersebut, Bryan berencana melamar Barbara. Ending yang indah.... karena gadis itu bakal mendapat dua impiannya sejak kecil. Menjadi milirder dan berbahagia bersama pria pujaan hatinya. Siapa lagi kalau bukan si Bryan pengagum rahasia.
Jam berbahan jati di rumanya berbunyi 12 kali. Barbara mulai membaringkan badannya di spring bed. Berharap dalam lelapnya malam itu, Bryan menghampiri mimpinya.

10 Februari 2015; Penulis: Rahmat: Publisher;www.buahpena.com.